JAGUNG: BUDIDAYA, PASCAPANEN DAN PEMASARAN

Rp65.000

Description

Penulis: Muh Arsyad, dkk

vi + 100.

15,5 x 23

Tanaman Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu bahan makanan pokok yang memiliki peran penting setelah beras bagi masyarakat Indonesia. Budidaya jagung sangat dipengaruhi olah sistem olah tanah, jarak tanam, pemupukan, pemangkasan dan penanganan gulma. Selain itu kegiatan pascapanen sangat menentukan mutu jagung yang dihasilkan terutama tentang kadair air, sehingga dapat dimanfaatkan dengan baik pada saat pengolahan dan dapat meningkatkan pemasaran.
Olah tanah minimum (T1) meningkatkan tinggi tanaman (173,33 cm) dan jumlah daun (11,30 helai) secara signifikan pada jagung manis, sementara jarak tanam rapat 70×20 cm (J3) optimal untuk bobot tongkol (8,53 kg). Jarak 100×40 cm dan 1 tanaman/lubang unggul pada panjang tongkol (36,82 cm), lingkar (27,60 cm), dan bobot pipil (707 g/tanaman); pemangkasan 2 daun pada Rasanya F1 (PV22) terbaik untuk produksi. Gulma dominan Cyperus rotundus (46,8% pada 20-25 HST) dan Eremochloa ophiuroides (31,4% pada 45-50 HST) dengan indeks keanekaragaman sedang (1,92-2,26) memerlukan pengendalian fase kritis menggunakan analisis SDR dan H’.
Analisis Pascapanen: Pengeringan Jagung Untuk Dua Varietas. Bagian ini menyajikan studi eksperimental mengenai pengaruh lama pengeringan terhadap laju penurunan kadar air dan berat pada dua varietas jagung hibrida. Penurunan kadar air paling signifikan terjadi pada hari kedua pengeringan, di mana NK22 turun sebesar 2,4% dan Bisi 2 sebesar 2%. Korelasi Berat dan Kadar Air: Hasil studi menunjukkan bahwa penurunan berat biji jagung berbanding lurus dengan laju penurunan kadar airnya. Lama pengeringan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap kadar air akhir, sehingga penting untuk menentukan titik kesetimbangan agar kualitas biji tetap terjaga selama penyimpanan. Selama proses pemasaran terdapat margin pemasaran Rp370/kg (pengumpul beli Rp2.330/kg, jual Rp2.700/kg ke pedagang besar) dengan efisiensi saluran 13,43%