LOCAL INDICATOR OF SPATIAL ASSOCIATION (LISA) DAN INDEKS MORAN DALAM KAJIAN POLITIK SPASIAL PADA PEMILU 2024 DI SULAWESI TENGAH

Rp79.200

Description

Penulis: Andi Hartati

vi + 242.

15,5 x 23

Distribusi Suara Tidak Bersifat Acak: Studi ini membuktikan secara empiris bahwa dukungan politik dalam Pemilu 2024 di Sulawesi Tengah tidak tersebar secara acak, melainkan memiliki dimensi spasial yang signifikan. Terdapat pola keterkaitan antarwilayah (autokorelasi spasial) di mana wilayah dengan dukungan tinggi cenderung berdekatan dengan wilayah serupa, membentuk klaster-klaster kekuatan politik tertentu.
Variasi Pola Spasial Antarpartai: Setiap partai memiliki karakteristik spasial yang berbeda: PDIP, PKB, dan Golkar menunjukkan autokorelasi positif yang signifikan di beberapa kabupaten (seperti Banggai, Donggala, dan Poso), yang berarti mereka memiliki basis dukungan (hotspot) yang solid dan terkonsentrasi secara geografis. Gerindra dan NasDem cenderung memiliki pola distribusi yang lebih acak atau terfragmentasi, yang mengindikasikan bahwa dukungan mereka lebih dipengaruhi oleh faktor figur kandidat atau jaringan patronase lokal daripada kedekatan geografis semata. Partai Demokrat menampilkan karakteristik unik dengan dukungan yang berklaster di wilayah berpopulasi pemilih besar namun memiliki tingkat partisipasi yang relatif rendah.
Pengaruh Signifikan Faktor Sosial-Ekonomi: Distribusi suara sangat dipengaruhi oleh variabel kesejahteraan. Wilayah dengan angka kemiskinan dan pengangguran yang tinggi cenderung memberikan dukungan yang lebih rendah kepada partai-partai besar seperti Golkar, PDIP, dan Gerindra. Sebaliknya, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang lebih baik berkorelasi positif dengan penguatan basis dukungan partai tertentu.
Ketimpangan Partisipasi Spasial: Terdapat ketimpangan partisipasi pemilih secara geografis, di mana daerah pesisir dan pusat layanan publik cenderung memiliki tingkat partisipasi lebih tinggi dibandingkan wilayah kepulauan atau daerah terpencil di pegunungan.