Description
Penulis: Dr. Saryono, S.Pd. M.Pd, dkk
viii + 394.
15,5 x 23
Buku ini lahir dari sebuah pertanyaan yang terus mengikuti penulis sepanjang perjalanan sebagai pendidik, mengapa pengetahuan tentang kewarganegaraan tidak selalu melahirkan kebijaksanaan dalam berkewargaan? Pertanyaan itu tidak muncul dari ruang seminar atau perdebatan akademik semata, melainkan tumbuh perlahan melalui pengalaman mengajar, berdialog dengan mahasiswa, mengamati dinamika masyarakat, serta menyaksikan perubahan cara manusia berinteraksi di ruang publik, baik secara langsung maupun melalui media digital. Di ruang kelas, mahasiswa mampu menjelaskan demokrasi, hak asasi manusia, konstitusi, dan negara hukum dengan baik. Namun di luar kelas, perbedaan pendapat sering berubah menjadi permusuhan, kebebasan berbicara kerap kehilangan tanggung jawab, dan percakapan publik semakin miskin empati. Dari situlah muncul kesadaran bahwa persoalan kewargaan tidak cukup dijawab hanya dengan menambah pengetahuan, tetapi memerlukan pendalaman mengenai bagaimana manusia belajar hidup bersama.
Kesadaran tersebut membawa penulis pada keyakinan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan sesungguhnya berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar daripada negara. Negara memang menjadi ruang tempat kewargaan dijalankan, tetapi kewargaan sendiri berakar pada relasi antarmanusia. Sebelum seseorang menjadi warga negara dalam pengertian konstitusional, ia terlebih dahulu adalah manusia yang hidup bersama manusia lain. Karena itu, Pendidikan Kewarganegaraan pada hakikatnya bukan sekadar pendidikan mengenai institusi politik, melainkan pendidikan yang membantu manusia memahami makna kebebasan, tanggung jawab, keadilan, kepedulian, dan kehidupan bersama. Perkembangan masyarakat kontemporer semakin memperlihatkan bahwa tantangan kewargaan tidak lagi semata-mata bersifat politik atau hukum, melainkan juga moral dan kultural. Kemajuan teknologi menghadirkan ruang publik yang semakin terbuka, tetapi tidak selalu diikuti oleh kemampuan berdialog. Informasi tersedia tanpa batas, tetapi tidak otomatis menghasilkan kebijaksanaan. Partisipasi menjadi semakin mudah, sementara refleksi justru sering tertinggal. Demokrasi menghadapi berbagai tantangan baru, seperti polarisasi, disinformasi, politik identitas, menurunnya kepercayaan publik, hingga kecenderungan melihat perbedaan sebagai ancaman, bukan sebagai kekayaan kehidupan demokratis. Dalam konteks inilah Pendidikan Kewarganegaraan dituntut untuk terus memperbarui orientasi dan cara pandangnya.










