Stunting merupakan salah satu permasalahan gizi kronis yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga memengaruhi perkembangan kognitif dan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Salah satu upaya penting dalam pencegahan stunting adalah pemenuhan gizi optimal sejak dini melalui pemberian Air Susu Ibu (ASI) dan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tepat.
Buku ini disusun berdasarkan hasil penelitian pada ibu menyusui (busui) dan bayi usia 0–24 bulan di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini melibatkan 203 ibu menyusui dari sepuluh desa, dengan tujuan menganalisis pola pertumbuhan bayi, prevalensi stunting, pemberian ASI eksklusif dan non eksklusif, serta status gizi ibu menyusui termasuk ibu dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK).
Pengertian Stunting
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam waktu lama, terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan. Stunting ditandai dengan panjang atau tinggi badan anak yang berada di bawah standar usianya. Kondisi ini terjadi akibat asupan gizi yang tidak mencukupi serta pola pemberian makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak.
Ciri-Ciri Stunting pada Anak
Anak yang mengalami stunting umumnya memiliki pertumbuhan tinggi badan yang lebih lambat dibandingkan anak seusianya. Selain itu, anak stunting sering tampak lebih kecil, memiliki daya tahan tubuh rendah, serta berisiko mengalami keterlambatan perkembangan motorik dan kognitif.
Faktor-Faktor Penyebab Stunting
Stunting disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Faktor tersebut meliputi kurangnya asupan gizi, rendahnya kualitas pemberian MPASI, riwayat pemberian ASI yang tidak optimal, kondisi kesehatan ibu selama menyusui, serta faktor lingkungan dan sosial ekonomi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian stunting lebih sering terjadi pada bayi berusia di atas 6 bulan. Hal ini berkaitan dengan perubahan pola makan, di mana bayi tidak lagi hanya mengandalkan ASI, tetapi mulai mendapatkan makanan pendamping.
Penyebab Stunting pada Anak
Pemberian ASI eksklusif terbukti merupakan asupan gizi yang baik bagi bayi usia 0–6 bulan. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan ASI eksklusif tidak secara langsung berdampak pada penurunan kejadian stunting. Sebagian besar anak stunting justru mendapatkan ASI eksklusif, yaitu sebanyak 41 anak (89,1%), sedangkan 5 anak (10,9%) mendapatkan ASI non eksklusif.
Hal ini mengindikasikan bahwa faktor utama penyebab stunting adalah pemberian MPASI yang tidak sesuai setelah bayi berusia lebih dari 6 bulan. MPASI yang tidak memenuhi kebutuhan gizi bayi menjadi faktor risiko paling berpengaruh terhadap kejadian stunting.
Tanda dan Gejala Stunting
Tanda dan gejala stunting dapat berupa tinggi badan anak yang lebih pendek dari standar usianya, pertumbuhan yang tidak optimal, serta peningkatan risiko gangguan kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia anak dan kejadian stunting, di mana stunting meningkat setelah anak berusia di atas 6 bulan.
Peran ASI dan MPASI dalam Pencegahan Stunting
ASI eksklusif tetap merupakan asupan gizi terbaik bagi bayi hingga usia 6 bulan. Namun, setelah usia tersebut, bayi harus mendapatkan MPASI yang sesuai dengan kebutuhan gizinya. MPASI harus diberikan secara tepat waktu, adekuat, dan berkualitas agar dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.
Sebagai tindak lanjut, diperlukan intervensi melalui inovasi MPASI berbasis kearifan lokal yang disesuaikan dengan kondisi dan potensi pangan setempat. MPASI berbasis kearifan lokal diharapkan mampu meningkatkan kualitas asupan gizi bayi usia 6–24 bulan dan menjadi langkah strategis dalam upaya pencegahan stunting.



