Rp63.000
Penulis:
Mayjen TNI (Purn) Dr. Ir. Pujo Widodo, S.E., S.H., S.T., M.A., M.Si., M.D.S., M.Si.(Han)
Ardianda Aryo Prakoso, S.Kom
Kapten Inf David Frederyc Koynja, S.Tr.(Han)
Kapten Inf M. Lutfi Anugrah, S.Tr.(Han)
M. Ridwan Al Fauzi, S.Sos
Mula Akmal, S.Sos
Jumlah Halaman
viii + 72.
Ukuran Buku
14,8 x 21
Pada Maret 1830, seorang pangeran datang ke meja perundingan dengan itikad baik. Namun, beliau pulang sebagai tahanan. Perundingan ini ternyata jebakan. Dua ratus tahun kemudian di pegunungan Papua, TNI masih mengejar kelompok bersenjata yang bergerak lebih cepat dari proyeksi kekuatan. Dua zaman yang terpisah jauh. Namun, memiliki pola perlawanannya nyaris identik.
Dua Wajah Perlawanan menyandingkan Perang Diponegoro dengan konflik di tanah Papua kontemporer. Buku ini menyoroti tiga benang merah yang menyambung keduanya: taktik gerilya, simbol budaya, dan narasi ketidakadilan yang diwariskan secara turun-temurun. Bukan kebetulan sejarah. Hal ini menjadi pola berulang setiap kali negara menghadapi perlawanan rakyat yang lebih kuat secara moral daripada secara konvensional.
Buku ini mengajak pembaca berpikir ulang tentang kemenangan militer, tentang mengapa perlawanan yang kalah di medan peperangan masih bisa tetap hidup lintas generasi, dan tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan untuk benar-benar mengakhiri sebuah perang.
Sejarah tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya menunggu wajah baru untuk menampakkan dirinya kembali.









