Description
Penulis: Willem Frans Ansanay
vi + 194.
15,5 x 23
A. DESKRIPSI BUKU
Buku “Firdaus yang Hilang: Studi Eksposisi Lukas 23:39-43 tentang Salib, Kasih Karunia, dan Kepastian Keselamatan” ini lahir dari perenungan mendalam terhadap salah satu percakapan paling singkat namun paling kaya makna teologis dalam seluruh Injil. Di tengah penderitaan terberat yang dapat dialami seorang manusia, Yesus Kristus justru menyatakan kemuliaan Allah melalui pengampunan dan janji kehidupan kekal kepada seorang penjahat yang disalibkan bersama-Nya. Percakapan yang hanya terdiri dari lima ayat dalam Lukas 23:39-43 ini menyimpan kebenaran mendasar tentang keselamatan, anugerah, dan pemulihan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta. Buku ini mengupas secara mendalam konsep Firdaus dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, teologi salib dalam Injil Lukas, analisis teks Lukas 23:39-43 dengan pendekatan biblika dan teologis, makna gelar Yesus sebagai “Anak Daud” dalam konteks mesianik, serta hubungan antara Firdaus dan keselamatan oleh kasih karunia melalui iman. Lebih dari sekadar kajian akademis, buku ini juga menyajikan refleksi teologis dan aplikasi praktis bagi kehidupan orang percaya masa kini, khususnya dalam menghadapi penderitaan, krisis iman, dan pergumulan akan kepastian keselamatan. Ditulis dengan pendekatan akademik yang berpijak pada landasan firman Tuhan, buku ini menjadi panduan yang relevan bagi mahasiswa teologi, dosen, pendeta, guru Pendidikan Agama Kristen, pelayan gereja, dan setiap orang percaya yang rindu mendalami makna salib dan pengharapan akan Firdaus. Melalui pembahasan yang sistematis dan mendalam, pembaca diajak untuk tidak hanya memahami kebenaran tentang keselamatan secara intelektual, tetapi juga mengalaminya secara pribadi, sebagaimana penjahat yang bertobat di kayu salib mendengar janji Yesus, “Hari ini juga engkau akan bersama-sama Aku di dalam Firdaus.”
B. TENTANG PENULIS
Willem Frans Ansanay, S.Pd., S.H., M.Pd. adalah seorang hamba Tuhan, pendidik, dan pemimpin yang lahir di tanah Papua yang indah, tepatnya di Numfor, 19 Juni 1963. Sejak kecil, ia bertumbuh dengan keyakinan bahwa Tuhan memiliki rencana besar bagi setiap kehidupan, bahkan yang lahir dari kesederhanaan sekalipun. Ia tidak pernah menyangka bahwa seorang anak dari tanah Papua akan dipanggil Tuhan untuk melayani, memimpin, dan menjadi berkat bagi banyak orang lintas suku dan generasi. Dalam perjalanan hidupnya, ia dipercaya Tuhan mendirikan Sinode Gereja Kasih Setia Indonesia (GKSI) dan turut menjadi salah satu pendiri Gereja Kristen Setia Indonesia. Ia juga dipercaya memimpin Sekolah Tinggi Teologi Injili Jakarta (STTIJA) sebagai ketua. Baginya, setiap jabatan bukanlah lambang kekuasaan, melainkan panggilan untuk melayani dengan air mata, kesetiaan, dan pengorbanan. Hidupnya tidak berhenti di ruang kelas dan mimbar. Ia juga menekuni dunia kewirausahaan, karena ia percaya bahwa setiap bidang kehidupan adalah ladang pelayanan untuk menghadirkan dampak yang lebih luas bagi kemuliaan Tuhan. Dengan ketekunan yang tak kenal lelah, ia membuktikan bahwa anak Papua mampu bermimpi besar, bekerja keras, dan menjadi berkat di mana pun ia ditempatkan. “Hidup yang diberkati bukanlah hidup yang menerima banyak hal, tetapi hidup yang dipersembahkan sepenuhnya bagi kemuliaan Allah.” Inilah yang terus ia hidupi setiap hari: dipakai, dibentuk, dan disempurnakan oleh Sang Pemilik Kehidupan, sampai generasi demi generasi mengenal kasih Kristus yang melampaui segala akal budi.










