Rp82.400
Penulis:
Oktovianus, S.Hut., M.Sc.
Adam Rachmatullah, S.Par., M.Sc.
Dr. Purwanti Dyah Pramanik, M.Si.
Prof. Willy Arafah, MM., DBA.
Hanni Adriani, S.P., M.Si.
Dr. Devita Gantina, SST. Par., M.Par.
Jumlah Halaman
xxii + 252.
Ukuran Buku
14,8 x 21
Kawasan Jakarta Islamic Centre (JIC) menyimpan satu paradoks tata kelola: satu kawasan, dua pengelola. Unit Pengelola Kawasan (UPK) Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta memegang “wadah” berupa kawasan, prasarana fisik, dan aset milik daerah, sedangkan Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (PPIJ) memegang “isi” yaitu peribadatan, dakwah, pengkajian, dan seluruh program keumatan. Buku ini memotret dualisme tersebut secara utuh dan menempatkannya sebagai persoalan kelembagaan, bukan persoalan orang.
Telaah disusun dari suara para pelaku langsung: pengelola PPIJ lintas divisi, personel inti UPK dan Dinas Sosial, serta jamaah, mitra, dan tokoh masyarakat. Suara itu diperkaya diskusi terpumpun bersama pimpinan PPIJ, mantan Kepala Sekretariat periode 2015–2022, dan narasumber LPPOM MUI DKI Jakarta, ditambah penelusuran regulasi dan pengamatan lapangan.
Gambarannya tajam. Pembagian kewenangan diakui jelas di atas kertas, namun hanya sebagian kecil keputusan di lapangan yang benar-benar bebas dari tumpang tindih; gesekan paling terasa pada penggunaan ruang dan pemeliharaan sarana. Program keagamaan PPIJ melaju kuat, sementara wadahnya menua, gedung utama belum direhabilitasi sejak kebakaran 2022 dan kecukupan anggaran menjadi titik terlemah bagi kedua belah pihak. Jiwa kawasan ini sehat; raganya yang memerlukan perawatan.
Dari pemetaan posisi strategis, aspirasi pemangku kepentingan, dan penimbangan tiga opsi kelembagaan secara terbuka, buku ini menawarkan satu jalan tengah yang tertimbang: Badan Pengelola JIC Terpadu berpola keuangan BLUD, yaitu satu badan, satu komando, dua deputi, dengan kendali visi pada Dewan Pengarah, keleluasaan keuangan berpagar tegas, dan layanan satu pintu. Peta jalan tiga tahap serta pengelolaan risikonya diuraikan hingga tataran agenda kerja.
Bacaan bagi pengambil kebijakan daerah, pengelola kawasan keagamaan, dan akademisi tata kelola, bahwa hati sebuah masjid dan otak sebuah korporasi modern dapat berada dalam satu tubuh.









