KARYA ALLAH TRITUNGGAL DALAM PERIODE WAKTU ATAS CIPTAAN-NYA

Rp62.600

Category

Description

Penulis: Willem Frans Ansanay

vi + 70.

15,5 x 23

Bagaimana jika waktu yang Anda jalanı setiap hari bukan sekadar rangkaian detik yang berlalu melainkan panggung besar tempat Allah bekerja? Buku Karya Allah Tritunggal dalam Periode Waktu atas Ciptaan-Nya membawa pembaca masuk ke dalam pemahaman yang mengguncang cara pandang: bahwa seluruh sejarah, dari awal penciptaan hingga masa depan, berada dalam tangan Allah yang hidup dan aktif. Melalui perjalanan teologis yang dalam namun tetap mengalir, pembaca diajak menyaksikan karya Allah Bapa sebagai Pencipta, Allah Anak sebagai Penebus, dan Allah Roh Kudus sebagai Pribadi yang terus bekerja membarui kehidupan. Ini bukan sekadar teori iman ini adalah kisah ilahi yang sedang berlangsung, dan Anda ada di dalamnya. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, percepatan teknologi, dan krisis makna hidup, buku ini menjadi suara yang menuntun kembali kepada kebenaran yang kokoh bahwa hidup Anda tidak kebetulan, waktu Anda tidak sia-sia, dan setiap langkah Anda berada dalam rencana Allah yang besar. Teologi Tritunggal dihadirkan bukan sebagai konsep yang sulit, tetapi sebagai jawaban nyata bagi kehidupan modern. Buku ini bukan hanya untuk dibaca tetapi untuk mengubah cara Anda melihat hidup. Sebab ketika Anda menyadari bahwa Allah bekerja dalam waktu, maka Anda akan mulai hidup dengan tujuan, dengan iman, dan dengan keberanian untuk menjadi bagian dari karya-Nya yang kekal.

✍️ Tentang Penulis
Willem Frans Ansanay, S.Pd., S.H., M.Pd. adalah seorang hamba Tuhan, pendidik, dan pemimpin yang lahir di Numfor. Berasal dari tanah Papua, ia bertumbuh dengan kesadaran bahwa hidup bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan panggilan ilahi yang harus dijalani dengan kesetiaan. Dari tempat asalnya di Kompleks PEMDA I Entrop No. 22, Jayapura Selatan, ia melangkah dengan iman untuk menjadi bagian dari karya Tuhan yang lebih besar. Dalam perjalanan hidupnya, ia dipercaya memegang berbagai tanggung jawab strategis, antara lain sebagai Pendiri Sinode Gereja Kasih Setia Indonesia (GKSI) dan juga menjadi salah satu pendiri dari Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) serta sebagai Ketua Sekolah Tinggi Teologi Injili Jakarta (STTIJA). Melalui peran ini, ia tidak hanya melayani dalam bidang teologi dan pendidikan, tetapi juga terlibat aktif dalam pengelolaan dan pengembangan pelayanan gereja secara luas. Baginya, pelayanan bukan sekadar tugas, melainkan panggilan hidup yang harus dijalani dengan integritas dan ketekunan. Di luar pelayanan gerejawi, ia juga menapaki dunia usaha sebagai seorang wiraswasta, dengan keyakinan bahwa pekerjaan dan usaha dapat menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan. Ia percaya bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari pencapaian pribadi, tetapi dari seberapa besar dampak yang dapat diberikan bagi pekerjaan Tuhan dan perluasan misi gereja. Sebagai seorang anak Papua dengan mimpi besar, Willem Frans Ansanay terus melangkah dengan iman, kerja keras, dan pengharapan. Ia percaya bahwa Tuhan tidak pernah salah dalam memilih dan memakai seseorang. Melalui setiap karya dan pengabdiannya, ia rindu agar hidupnya menjadi alat dalam tangan Tuhan—dipakai, dibentuk, dan diselesaikan sesuai dengan kehendak-Nya, sampai pada akhirnya Tuhan sendiri berkenan menyempurnakan setiap panggilan dalam hidupnya.