KEKRISTENAN, TEORI EKONOMI, DAN KEWIRAUSAHAAN

Rp68.600

Penulis:
Wilson Rajagukguk
Omas Bulan Samosir
Perak Samosir
Demsy Jura
Josia Rajagukguk
Hasiana Emanuela Rajagukguk

Jumlah Halaman
iv + 132.

Ukuran Buku
15,5 x 23

Buku berjudul ”Kekristenan, Teori Ekonomi, dan Kewirausahaan”, ditulis untuk menjembatani Teori Ekonomi, Teologia khusunya Kekristenan, dan Kewirausahaan. dan menerapkannya dalam dunia usaha melalui kegiatan kewirausahaan.

Max Weber dalam The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1905) mengajukan tesis yang sederhana: semangat kapitalisme modern tidak lahir dari udara kosong. Ia lahir dari rahim teologi, khususnya dari Protestanisme. Dan di titik inilah teologi, ekonomi, dan kewirausahaan bertemu.

Protestanisme, terutama aliran Kalvinis, membawa tiga perubahan besar dalam cara orang memandang kerja. Perubahan inilah yang menjadi jembatan antara Kekristenan, Ekonomi, dan Kewirausahaan. Pertama, doktrin Panggilan atau Beruf, oleh Martin Luther dan Calvin diajarkan bahwa melayani Tuhan selain menjadi biarawan, pelaku ekonomi seperti tukang sepatu, petani, pedagang, dan pengusaha memili panggilan kudus. Kerja adalah ibadah. Ketika kerja dianggap suci, maka kemalasan adalah dosa. Orang Protestan bekerja keras, disiplin, dan rajin bukan untuk pamer, tetapi karena percaya sedang melayani Tuhan melalui profesinya. Kedua, Doktrin Penatalayanan dan Anti-Kemewahan. Calvin mengajarkan bahwa segala sesuatu milik Tuhan. Manusia hanyalah bendahara. Uang, waktu, dan talenta adalah titipan yang harus dipertanggungjawabkan. Karena itu orang Protestan hidup sederhana, hemat, dan menghindari pemborosan. Mereka tidak menimbun kekayaan untuk hedonisme. Mereka menginvestasikannya kembali. Semangat ini disebut semanga kapitalisme. Akumulasi kapial diputar bukan untuk dihabiskan. Ketiga, Doktrin Kepastian dan Tanda Berkat. Tanda itu dilihat dari cara menjalani hidup: apakah rajin, jujur, dan diberkati dalam pekerjaan? Bukan berarti berkat sama dengan menjadi kaya. Akan tetapi berkat adalah setia dalam perkara kecil.

Semangat inilah yang melahirkan etos: bekerja sebaik-baiknya, terus belajar, terus berinovasi. Jika Tuhan memberi kepercayaan, maka kita harus melipatgandakannya seperti hamba. Mental “yang penting cukup” diganti menjadi mental “yang penting berdampak”. Bukan ketamakan dan hedonisme akan tetapai produktivitas dan menjadi berkat melalui dampak.