Description
Penulis: Adam Mardamsyah
viii + 272.
14,8 x 21
Buku Laut Cina Selatan dalam Perspektif Konflik Iran–Israel di Asia Tenggara menghadirkan sebuah kajian strategis, komprehensif, dan multidimensional tentang bagaimana ketegangan global antara Iran dan Israel beresonansi hingga ke kawasan Asia Tenggara, dengan Laut Cina Selatan (LCS) sebagai panggung utamanya. Buku ini tidak hanya menjelaskan dinamika geopolitik dan geostrategis LCS sebagai jalur pelayaran tersibuk di dunia, tetapi juga menyoroti bagaimana pergeseran kekuatan global dan konflik di Timur Tengah turut membentuk arsitektur keamanan di Asia Tenggara.
Laut Cina Selatan merupakan wilayah strategis yang diperebutkan oleh banyak negara, tidak hanya negara-negara di kawasan Asia Tenggara, seperti Indonesia, Vietnam, Filipina, dan Malaysia, tetapi juga kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok. Ketegangan ini semakin kompleks ketika dikaitkan dengan isu global, seperti konflik Iran–Israel yang dapat berdampak pada keamanan jalur distribusi energi global. Melalui pendekatan teoritis keamanan maritim, keseimbangan kekuatan (balance of power), dan teori konflik, buku ini menggambarkan bagaimana Asia Tenggara menjadi arena persaingan pengaruh dari kekuatan-kekuatan besar dunia.
Buku ini dibagi ke dalam beberapa bab yang mengulas secara sistematis: mulai dari sejarah dan posisi strategis LCS, dinamika perebutan wilayah oleh negara-negara pengklaim, hingga eskalasi konflik yang dipengaruhi oleh krisis geopolitik global, seperti konfrontasi antara Iran dan Israel. Dalam konteks tersebut, penulis memaparkan bagaimana konflik yang terjadi di luar kawasan Asia Tenggara dapat menciptakan efek domino terhadap kestabilan dan perdamaian di kawasan. LCS menjadi penting karena fungsinya sebagai choke point jalur energi, di mana lebih dari 40% pasokan minyak dunia melewati kawasan ini, termasuk dari Teluk Persia yang terimbas langsung konflik Iran–Israel.
Salah satu keunikan buku ini adalah pendekatannya yang tidak hanya membahas aspek militer, tetapi juga mencakup pendekatan ekonomi, diplomasi, dan intelijen. Penulis menawarkan peta jalan keamanan Laut Cina Selatan hingga tahun 2045 yang berfokus pada empat pilar utama: integrasi pertahanan regional, kemandirian teknologi maritim, diplomasi ekonomi multilateral, dan kolaborasi intelijen lintas negara. Peta jalan ini disusun berdasarkan skenario kebijakan strategis dan tren global, serta memperhitungkan potensi konflik dan peluang kerjasama di masa depan.
Dengan didukung data, grafik, dan tabel analitik, buku ini menjadi referensi penting bagi akademisi, praktisi pertahanan, pembuat kebijakan, serta pihak-pihak yang peduli terhadap perdamaian dan stabilitas kawasan Asia Tenggara. Buku ini juga menekankan pentingnya diplomasi pertahanan yang cerdas, kesiapan teknologi, dan pendekatan kolaboratif dalam menghadapi tantangan geopolitik kontemporer yang kompleks dan saling berkaitan.
Secara keseluruhan, buku ini mengajak pembaca untuk memahami bahwa konflik tidak pernah terjadi dalam ruang hampa. Ketegangan di Timur Tengah pun pada akhirnya dapat berimbas pada kawasan kita, dan Laut Cina Selatan menjadi episentrum strategis yang harus dikelola secara arif demi menjaga kedaulatan, perdamaian, dan stabilitas jangka panjang.










