Description
Penulis:
Muhammad Ilham Mustain Murda
Ferderika Rumkorem
viii + 137.
15,5 x 23
Menjaga yang Tak Tertulis: Manajemen Sanggar Berbasis Budaya di Tanah Papua
Buku ini mengangkat praktik manajemen sanggar seni di Tanah Papua sebagai bentuk pengetahuan alternatif yang hidup, kontekstual, dan berakar pada nilai-nilai adat serta hubungan sosial. Di tengah dominasi model manajemen formal yang sentralistik dan berorientasi output, praktik-praktik komunitas seperti yang dijalankan oleh Sanggar Soru Kamasan dan IAM Jayapura justru memperlihatkan cara lain dalam mengelola seni: melalui rasa, relasi, dan ritme budaya. Buku ini menyajikan narasi etnografis dan analisis manajerial yang saling bertaut, menunjukkan bahwa yang tak tertulis pun bisa fungsional, strategis, bahkan visioner.
Lebih dari sekadar dokumentasi budaya, buku ini adalah peta reflektif dan strategis. Setiap bab menyajikan praktik, tantangan, dan peluang dalam keberlangsungan sanggar sebagai lembaga akar rumput—dari persoalan regenerasi, dana, hingga digitalisasi. Penulis juga mengusulkan konsep “ekosistem sanggar berkelanjutan” melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan komunitas, pemerintah, akademisi, media, dan dunia usaha. Bagi pembuat kebijakan, pendidik, hingga pelaku komunitas budaya, buku ini menawarkan tidak hanya kritik, tetapi juga alternatif jalan perubahan.
“Menjaga yang Tak Tertulis” bukan hanya catatan tentang Papua, tetapi seruan untuk Indonesia: bahwa pinggiran bukan berarti tak punya pusatnya sendiri. Bahwa manajemen seni bisa ditulis ulang dari tempat di mana anak-anak menari bukan demi panggung, tapi demi menjaga jati diri. Ini adalah buku tentang tari, ya—tapi lebih dari itu, ini adalah buku tentang masa depan yang tumbuh dari akar.










