Description
Penulis: Dr. Bokiraiya Latuamury
viii + 396.
18,2 x 25,7
Buku ini menyajikan sintesis komprehensif mengenai dimensi ekologi, teknologi, dan sosial-budaya dalam tata kelola air di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil, dengan penekanan khusus pada peran ekosistem mangrove sebagai sistem biofiltrasi alami. Karya ini menanggapi tantangan mendesak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan fragmentasi kelembagaan yang secara kolektif mengancam keberlanjutan sumber daya air di wilayah maritim yang rentan. Dengan memadukan bukti ilmiah dan kearifan lokal, buku ini mendorong pendekatan integratif yang menjembatani sains lingkungan modern, solusi berbasis alam (Nature-based Solutions/NbS), dan pengetahuan hidrologi tradisional masyarakat adat.
Buku ini menegaskan pentingnya mereposisikan hutan mangrove tidak hanya sebagai penyangga ekologi, tetapi juga sebagai sistem pengelolaan air yang sarat nilai budaya. Fungsi biofiltrasi dari struktur akar mangrove, kemampuannya dalam menyerap logam berat, mengatur siklus nutrien, dan menstabilkan salinitas air dianalisis melalui pendekatan multidisiplin. Fungsi-fungsi ekologis ini dikaitkan secara langsung dengan manfaat sosial-ekonomi yang nyata, seperti peningkatan kualitas air, produktivitas perikanan, serta ketahanan komunitas dalam menghadapi variabilitas hidrologis dan kejadian cuaca ekstrem. Lebih jauh, buku ini menempatkan pengalaman hidup dan epistemologi komunitas pesisir—khususnya di Indonesia dan Pasifik Selatan—sebagai pusat narasi. Komunitas ini telah lama mengandalkan institusi adat dan ritual tradisional untuk mengelola sumber air dan melindungi habitat mangrove. Melalui studi kasus etnografi, diungkap bagaimana praktik-praktik seperti sasi air, zonasi sakral, tabu ekologis, dan upacara air membentuk sistem pemerintahan adaptif yang dinamis dan selaras dengan prinsip-prinsip NbS. Buku ini juga secara kritis menelaah dimensi ekonomi-politik dari tata kelola air serta relasi kuasa yang asimetris dalam pengelolaan sumber daya alam. Buku ini menggugat paradigma teknokratis yang kerap meminggirkan suara lokal, dan sebagai gantinya, menawarkan kerangka desentralisasi adaptif dan partisipatif dalam pengambilan keputusan pengelolaan air. Perhatian khusus diberikan pada reformasi kelembagaan, kolaborasi antar pemangku kepentingan, serta pengakuan hak-hak masyarakat adat dalam perumusan kebijakan air yang berkelanjutan.
Buku ini mengintegrasikan data empiris dari pemantauan biofisik, pemodelan hidrologi, penilaian partisipatif pedesaan (PRA), serta analisis kebijakanBuku ini menyoroti peran perempuan dan generasi muda sebagai penjaga keamanan air rumah tangga sekaligus pembawa pengetahuan budaya, yang keterlibatannya sangat krusial untuk menjaga keberlanjutan praktik-praktik tradisional. Jalur pendidikan dan pembelajaran berbasis komunitas ditonjolkan sebagai platform strategis dalam merevitalisasi kearifan ekologi lokal di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi.
Sebagai referensi ilmiah, buku ini ditujukan bagi kalangan akademisi, pembuat kebijakan, praktisi lingkungan, serta aktor masyarakat sipil yang berkomitmen terhadap pelestarian ekosistem dan keadilan ekologis. Buku ini mengundang dialog lintas sektor dan memperkuat pendekatan ilmiah interdisipliner, dengan tujuan mendorong tata kelola air yang mengintegrasikan etika ekologi, agensi komunitas, dan perspektif ketahanan sosial-ekologis ke dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian, buku ini bukan hanya merupakan karya akademik, tetapi juga seruan untuk bertindak. Ia menginspirasi strategi-strategi berbasis lokal yang relevan secara global dalam menjamin masa depan air di wilayah kepulauan dan pesisir. Dengan merajut sains, teknologi, dan warisan budaya masyarakat adat, buku ini menawarkan jalur menuju lanskap hidro-sosial yang adil dan berkelanjutan dalam era penuh ketidakpastian dan krisis ekologis.










