MENILIK KESEHATAN JIWA Mitos, Stigma, dan Dunia Digital

Rp63.800

Description

Penulis: Dinastuti, M.Si., Psikolog

iv + 84.

15,5 x 23

Menilik Kesehatan Jiwa: Mitos, Stigma, dan Dunia Digital hadir sebagai buku ajar sekaligus referensi yang mengajak pembaca memahami kesehatan jiwa secara lebih ilmiah, manusiawi, dan bebas stigma. Buku ini berangkat dari kenyataan bahwa gangguan jiwa masih sering dipahami melalui mitos, prasangka, persoalan moral, maupun anggapan spiritual yang keliru. Melalui pembahasan berbasis bukti, pembaca diajak membedakan antara respons emosional yang wajar dengan gangguan jiwa klinis, memahami konsep recovery atau pemulihan, serta melihat gangguan jiwa sebagai kondisi kompleks yang dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, dan sosial.
Pembahasan kemudian diperluas dengan melihat bagaimana budaya, kondisi ekonomi, pendidikan, dan spiritualitas membentuk persepsi serta perilaku masyarakat terhadap kesehatan jiwa. Buku ini juga menyoroti tantangan generasi muda di era digital, terutama fenomena self-diagnosis, cyberbullying, glamorisasi isu kesehatan mental, serta pentingnya literasi media dan digital hygiene. Dengan mengangkat berbagai persoalan tersebut, buku ini menunjukkan bahwa stigma dan rendahnya literasi kesehatan jiwa dapat memperlebar treatment gap dan membuat individu menunda pencarian bantuan profesional.
Pada bagian akhir, buku ini tidak hanya membahas persoalan, tetapi juga menawarkan arah dan strategi penanganan kesehatan jiwa yang lebih inklusif. Pembaca diperkenalkan pada layanan kesehatan jiwa berbasis komunitas, alur bantuan profesional, pemanfaatan layanan Puskesmas dan BPJS Kesehatan, hingga prinsip Mental Health First Aid (MHFA) dan pendekatan Person-First Language. Buku ini menegaskan bahwa membangun kesehatan jiwa bukan hanya tanggung jawab psikolog atau psikiater, melainkan membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, tempat kerja, komunitas, pemerintah, dan masyarakat luas. Dengan demikian, Menilik Kesehatan Jiwa diharapkan menjadi jembatan pengetahuan yang mampu mengubah cara pandang, mengurangi stigma, mendorong keberanian mencari bantuan, serta membangun ekosistem kesehatan jiwa Indonesia yang lebih empatik dan berbasis bukti ilmiah.