MODEL PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA BERBASIS PROYEK BAGI SISWA BERKESULITAN BELAJAR MATEMATIKA

Rp63.206

Category

Description

Tim penulis: Budi Hermawan, dkk

vi + 82.

15,5 x 23

Profil kemandirian belajar siswa dengan kesulitan matematika ditunjukan dengan adanya keterbatasan kebebasan dalam memilih, komitmen menyelesaikan tugas yang rendah dan keyakinan akan diri. Mereka juga cenderung enggan untuk mengikuti Pelajaran matematika. Namun demikian, kurikulum yang menjadi rujukan menuntut siswa untuk tetap belajar matematika, sehingga siswa yang mengalami kesulitan belajar matematika ada kecenderungan menjadi terpaksa. Namun demikian disebabkan para siswa memiliki kesenjangan hasil belajar yang begitu luas dengan kemampuan seharusnya berkembang pada saat ini mereka sulit memahami konsep-konsep yang diajarkan. Kesulitan ini membuat mereka mengalami kendala dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan sehingga terkesan mereka tidak komitmen di dalam mengerjakan tugas. Kegagalan yang berluang kali dalam upaya mengembangkan pemahaman konsep matematika pada siswa dengan kesulitan matematika memberikan kesempatan bahwa mereka memiliki keyakinan diri yang rendah dalam mengerjakan tugas-tugasnya.
Profil pembelajaran yang diberikan oleh guru sebelumnya, adalah melalui pendekatan pembelajaran Matematika menjadi lebih menarik untuk menumbuhkan motivasi siswa dalam menyelesaikan soal matematika. Selain itu, guru juga berupaya untuk dapat menyesuaikan tujuan pembelajaran dengan kesulitan belajar matematika yang dihadapi oleh siswa. Akan tetapi, permasalahan yang dihadapi siswa yang mengalami kesulitan belajar Matematika belum menunjukkan kemandiriannya dalam belajar matematika.
Guna menyelesaikan permasalahan kemandirian belajar maka disusun model pembelajaran dalam upaya peningkatan kemandirian belajar melalui pendekatan tutor sebaya dalam pembelajaran berbasis proyek yang dimulai dari (1) proses memahami kebutuhan belajar siswa dengan kesulitan matematika, (2) pemilihan tutor sebaya, dan (3) pengembangan proyek base learning. Proses memahami kebutuhan belajar dilakukan melalui proses assessment kebutuhan belajar. Proses assessment kebutuhan belajar dilakukan dengan mengidentifikasi kemampuan dan hambatan belajar siswa. Selisih antara kemampuan matematika yang seharusnya dikuasai oleh siswa dengan kemampuan yang telah dimiliki menjadi kebutuhan belajar siswa dalam mengembangkan kemampuan matematikanya