Description
Penulis: Amani Lahagu
vi + 149.
14,8 x 21
Pukul empat pagi, sebuah pesan membangunkanku.
“Kak… ada seorang ibu di rumahku. Wajahnya lebam. Kepalanya berdarah. Dia datang sambil menggendong anaknya dan hanya bisa berkata: tolong aku. ”
Sejak hari itu, aku menyadari satu hal:
kekerasan terhadap perempuan tidak selalu terjadi di tempat gelap. Kadang ia terjadi di rumah yang terlihat biasa, di desa yang tampak tenang, bahkan di ruang-ruang yang seharusnya melindungi.
Aku bertemu perempuan yang dipukul oleh suaminya sendiri.
Ibu yang dipisahkan dari anak-anaknya.
Perempuan yang dimiskinkan dalam satu malam.
Perempuan yang diviralkan dan dihakimi publik sebelum kebenaran sempat berbicara.
Di hadapan fitnah, hukum, adat, dan stigma sosial, banyak perempuan dipaksa berdiri sendirian.
Buku ini adalah catatan perjalanan mendampingi mereka—perempuan-perempuan yang terluka, tetapi menolak menyerah.
Di balik setiap kasus ada air mata.
Di balik setiap luka ada keberanian.
Dan di balik setiap perempuan yang bertahan, ada harapan yang tidak pernah sepenuhnya mati.
Karena pada akhirnya, yang paling berbahaya bukanlah kekerasan itu sendiri—
melainkan ketika masyarakat memilih diam melihatnya.










