Description
Penulis: Novaldi Sitindaon, S.S.T., Ak. M.Sc., CA, PC, dkk
vi + 199.
15,5 x 23
Di abad ketika peperangan tak lagi selalu terdengar dentuman meriam, melainkan berdenyut dalam sunyi gelombang data dan kilatan algoritma, lahirlah sebuah gagasan besar: Quantum C4ISR Intelligence. Inilah kisah tentang masa depan pertahanan Indonesia tentang bagaimana sebuah bangsa membangun “otak perang tak terlihat” untuk menavigasi pusaran ancaman abad ke-21.
Buku ini membawa pembaca menyelami transformasi strategis dari sistem Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance menuju lompatan revolusioner berbasis komputasi kuantum, kecerdasan buatan, dan supremasi informasi. Di tengah rivalitas global, perang siber, dan perlombaan teknologi kuantum, Indonesia dihadapkan pada satu pilihan: menjadi penonton dalam arus dominasi digital, atau bangkit sebagai kekuatan yang berdaulat secara teknologi.
Dengan pendekatan strategis Ends–Ways–Means, buku ini memetakan jalan menuju 2045 tahun Indonesia Emas di mana kemandirian pertahanan digital bukan lagi mimpi, melainkan arsitektur nyata yang terintegrasi dalam kebijakan nasional, industri pertahanan, dan pembangunan sumber daya manusia. Dari ancaman advanced persistent threats hingga potensi post-quantum cryptography, dari diplomasi teknologi hingga reformasi regulasi, setiap bab mengurai tantangan sekaligus peluang yang menentukan masa depan kedaulatan bangsa.
Lebih dari sekadar analisis militer, karya ini adalah manifesto strategis. Ia menggabungkan visi geopolitik, realitas keamanan siber, dan revolusi teknologi kuantum dalam satu narasi yang tajam, berani, dan visioner. Di sinilah pertahanan tidak lagi hanya tentang kekuatan fisik, tetapi tentang keunggulan informasi, kecepatan pengambilan keputusan, dan dominasi spektrum digital.
Quantum C4ISR Intelligence adalah panggilan bagi para pemimpin, perencana strategis, akademisi, dan generasi muda untuk membangun fondasi pertahanan yang tak kasat mata namun tak tergoyahkan. Karena di masa depan, siapa yang menguasai informasi dialah yang menguasai medan perang.










