SERIBU WAJAH NAGA MITOLOGI DAN MAKNA BUDAYA DALAM PERADABAN DUNIA

Rp66.800

Penulis:
Diah Meutia Harum
Jauza Najla Naufalia

Jumlah Halaman
viii + 110.

Ukuran Buku
14 x 20

Naga termasuk makhluk mitologis yang paling dikenal dalam cerita dan imajinasi manusia. Sosoknya muncul dalam berbagai kisah, kepercayaan, dan tradisi budaya di seluruh dunia. Namun, naga tidak selalu digambarkan dengan rupa, sifat, atau makna yang sama. Di suatu kebudayaan, naga dipercaya sebagai penjaga air, pembawa keberuntungan, atau lambang kekuasaan. Di kebudayaan lain, naga justru dianggap berbahaya, menjaga harta karun, atau mewakili kekuatan alam yang sulit dikendalikan.
Buku “Seribu Wajah Naga: Mitologi dan Makna Budaya dalam Peradaban Dunia” mengajak pembaca mengenal beragam kisah naga dari berbagai tradisi, mulai dari peradaban kuno hingga Nusantara. Dengan menelusuri mitologi, cerita rakyat, dan penggambaran naga dalam kebudayaan, buku ini menunjukkan bahwa sosok naga dibentuk oleh lingkungan, kepercayaan, pengalaman sejarah, dan imajinasi masyarakat. Kisah-kisah tersebut bukan sekadar cerita tentang makhluk gaib, melainkan juga cara masyarakat memahami dunia serta hubungan manusia dengan alam dan tatanan sosial.
Buku ini membandingkan cara berbagai kebudayaan memaknai naga, tanpa menganggap bahwa semua tradisi memiliki asal-usul atau pemahaman yang sama. Kemiripan cerita bisa muncul karena hubungan antarmasyarakat dan pertukaran kisah. Namun, kemiripan juga dapat timbul secara terpisah karena manusia menghadapi pengalaman alam yang serupa. Sebaliknya, perbedaan penggambaran naga memperlihatkan kekhasan nilai, kepercayaan, dan sejarah setiap masyarakat.
Pembahasan tentang naga dalam tradisi Nusantara memperlihatkan bagaimana kisah yang dikenal luas dapat memperoleh makna khusus di lingkungan setempat. Kisah-kisah ini membantu kita memahami hubungan masyarakat dengan alam, air, kekuasaan, identitas, dan ingatan bersama. Karena itu, mitologi naga bukan hanya warisan cerita masa lalu, tetapi juga sumber pengetahuan budaya yang terus ditafsirkan ulang.
Buku ini tidak hanya menuturkan kisah naga, tetapi juga mengajak pembaca menelaah makna di baliknya. Naga tidak diperlakukan sebagai satu sosok dengan makna yang berlaku di mana-mana. Sebaliknya, buku ini menunjukkan bahwa naga memiliki banyak rupa dan arti, sesuai dengan pengalaman serta pandangan hidup masyarakat yang menceritakannya.