Description
Penulis: Reni Novia, dkk
vi + 138.
15,5 x 23
Di tengah arus digitalisasi yang terus menggerus batas-batas budaya, masyarakat Baduy Dalam justru berdiri sebagai anomali yang mengundang pertanyaan serius: mungkinkah sebuah komunitas mempertahankan identitasnya secara utuh tanpa berkompromi dengan modernitas? Buku ini mencoba menjawab pertanyaan itu melalui pendekatan etnografi yang menempatkan Suku Baduy dengan segenap kompleksitas sosial, spiritual, dan budayanya sebagai subjek kajian, bukan sekadar objek eksotis yang dikagumi dari kejauhan.
Pembahasan dibuka dengan menelusuri akar sejarah masyarakat Kanekes, dari hubungan mereka dengan Kesultanan Banten hingga sistem kepercayaan Sunda Wiwitan yang menjadi tulang punggung seluruh tatanan kehidupan. Mitos leluhur, kosmologi, dan prinsip pikukuh karuhun diurai sebagai fondasi yang tidak hanya mengatur cara berpakaian atau bercocok tanam, tetapi juga menentukan bagaimana masyarakat ini memandang teknologi, kemajuan, dan keterkaitan manusia dengan alam. Dari sistem kepemimpinan yang berpusat pada Puun dan Jaro Tangtu, hingga ekonomi berbasis huma dan barter yang menolak logika pasar semua itu membentuk sebuah dunia yang bergerak atas prinsipnya sendiri.
Titik paling tajam dalam buku ini adalah ketegangan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar dalam menghadapi era digital. Penolakan masyarakat Baduy Dalam terhadap teknologi komunikasi dibaca bukan sebagai ketertinggalan, melainkan sebagai bentuk perlawanan kultural yang sadar dan terorganisir. Sementara itu, Baduy Luar menjalankan peran sebagai jembatan digital menjadi mediator antara dunia adat yang tertutup dan dunia luar yang serba terhubung, dengan menggunakan teknologi secara selektif tanpa melepas akar tradisi. Buku ini juga mengkritisi bagaimana representasi Baduy di ruang digital kerap melahirkan distorsi: komodifikasi budaya, romantisasi yang tidak berdasar, hingga stereotipisasi yang justru merampas suara komunitas itu sendiri.
Bagian terakhir memberikan perhatian khusus pada posisi perempuan Baduy sosok yang selama ini lebih banyak direpresentasikan oleh pihak luar daripada berbicara atas namanya sendiri. Buku ini memperlihatkan bahwa ketidakhadiran perempuan Baduy di ruang digital bukan kelemahan, melainkan bentuk resistensi yang bermartabat: cara mereka menjaga diri dari objektifikasi sekaligus mempertahankan peran sakralnya sebagai penjaga benih, nilai, dan kesinambungan hidup komunitas.










