Rumah sakit sebagai organisasi pelayanan kesehatan memerlukan peran tenaga kesehatan yang berkualitas agar pelayanan yang diberikan dapat maksimal. Di antara tenaga kesehatan, perawat memegang posisi yang paling banyak dan berperan penting dalam pemberian pelayanan (Rachman dan Dewanto, 2016). Namun, dalam menciptakan perawat yang berkualitas, seringkali dihadapkan pada kendala yang serius, salah satunya adalah potensi terjadinya turnover intention atau keinginan pindah kerja. Tingkat turnover rate yang tinggi akan berdampak pada kepuasan petugas di rumah sakit, terutama perawat, dan ini berpotensi menurunkan kinerja mereka dalam memberikan pelayanan.
Pengertian Turnover Intention
Turnover intention merupakan niat karyawan untuk berhenti dari pekerjaannya secara sukarela atau berpindah dari satu tempat kerja ke tempat yang lain sesuai pilihan pribadi (Mobley, 1978) dalam (Suryani dan Heryana, 2018). Fenomena ini menjadi isu penting dalam manajemen sumber daya manusia, terutama di sektor kesehatan, di mana staf perawat yang berkualitas sangat dibutuhkan. Menurut Gillies, kejadian turnover pada perawat mencapai angka maksimal antara 5-10% per tahun, yang menunjukkan bahwa masalah ini tidak bisa diabaikan begitu saja.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Turnover Intention
Banyak faktor yang berperan dalam terjadinya tingkat turnover yang tinggi pada karyawan di suatu organisasi. Mobley (1986) dalam (Mujiati dan Dewi, 2016) menyatakan bahwa turnover intention dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal dapat mencakup aspek lingkungan kerja, seperti kondisi fisik rumah sakit, hubungan antar rekan kerja, dan kebijakan perusahaan. Sementara itu, faktor internal meliputi:
- Budaya Organisasi: Budaya yang kurang mendukung dapat membuat perawat merasa terasing dan tidak dihargai.
- Gaya Kepemimpinan: Kepemimpinan yang otoriter dapat mengurangi motivasi perawat untuk bertahan.
- Kompensasi: Kompensasi yang kurang memadai dapat menyebabkan ketidakpuasan di kalangan perawat.
- Kepuasan Kerja: Tingkat kepuasan kerja yang rendah berkontribusi besar terhadap keinginan berpindah.
- Pengembangan Karier: Kesempatan yang terbatas untuk berkembang sering kali menjadi alasan utama perawat untuk mencari pekerjaan di tempat lain.
Dampak Turnover pada Organisasi
Keberadaan turnover intention yang tinggi di kalangan perawat dapat merugikan organisasi dari berbagai aspek. Menurut Suyono et al. (2018), dampak negatif yang ditimbulkan dari turnover mencakup:
- Biaya: Tingginya biaya rekrutmen dan pelatihan pegawai baru.
- Sumber Daya: Hilangnya pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki perawat berpengalaman.
- Efektivitas: Penurunan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien.
Dengan demikian, manajemen rumah sakit perlu lebih peka dalam menangani isu ini untuk menjaga kestabilan dan kualitas pelayanan.
Upaya Pengendalian Turnover pada Perawat
Dalam menghadapi potensi turnover intention, pihak manajemen rumah sakit harus mengambil langkah-langkah strategis. Pertama, penting untuk meningkatkan kepuasan kerja perawat dengan memberikan perhatian lebih kepada mereka yang merasa kurang puas terhadap pekerjaan. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain:
- Meningkatkan Kompensasi: Memastikan bahwa kompensasi yang diberikan, terutama kompensasi non-finansial seperti jaminan kesehatan, sesuai dengan kebutuhan perawat.
- Memperjelas Tugas dan Job Desk: Memberikan penjelasan yang jelas mengenai tugas masing-masing perawat dan job desk pada setiap unit untuk menghindari kebingungan dan ketidakpuasan.
- Peluang Pengembangan Karier: Menyediakan kesempatan bagi perawat baru untuk mengikuti pelatihan dan pendidikan keperawatan agar mereka dapat berkembang dan merasa dihargai.
- Menciptakan Lingkungan Kerja yang Mendukung: Lingkungan kerja yang positif dan kolaboratif dapat membantu menurunkan tingkat turnover intention.
- Mendengarkan Aspirasi Perawat: Mengadakan forum atau pertemuan rutin untuk mendengar masukan dan keluhan dari perawat agar mereka merasa diperhatikan.



